Ajakan untuk Ekonomi yang Saling Menghidupkan
Sejak lama kita diajari satu cerita besar:
kalau setiap orang mengejar untungnya sendiri, maka pada akhirnya semua akan kebagian rezeki.
Katanya, dari kejar-kejaran kepentingan pribadi itulah ekonomi bergerak.
Katanya, dari ego masing-masing, kebaikan bersama akan muncul dengan sendirinya.
Cerita ini terdengar masuk akal.
Dan memang, cerita inilah yang selama ratusan tahun dijadikan dasar ekonomi modern.
Tapi mari kita berhenti sebentar, lalu bertanya jujur:
Di pasar, pedagang kecil banting tulang dari pagi sampai malam.
Di jalan, ojek, buruh, nelayan, petani bekerja tanpa henti.
Namun di atas sana, kekayaan justru menumpuk pada segelintir orang.
Kalau benar ego masing-masing otomatis menghasilkan kebaikan bersama,
mengapa yang kecil makin terjepit, sementara yang besar makin leluasa?
Hari ini, banyak orang diajak berlomba bukan untuk menghidupkan usaha,
tetapi untuk mengejar angka di layar.
Padahal jarang ada yang bertanya:
kalau uang semua lari ke sana, siapa yang menghidupi warung, pasar, petani, dan usaha kecil?
Uang yang hanya berputar di spekulasi tidak menambah lapangan kerja, tidak menghidupi tetangga, tidak menguatkan kampung.
Ia hanya berpindah dari tangan banyak orang ke tangan sedikit orang yang sudah kuat sejak awal.
Pedagang kecil sebenarnya paham hal yang sangat sederhana: kalau cuma mikirin diri sendiri, usaha tidak akan panjang umur.
Ini bukan teori. Ini pengalaman hidup.
Ekonomi yang sehat bukan ekonomi yang paling cepat cuannya,
tetapi ekonomi yang paling banyak menghidupi orang.
Warung hidup.
Usaha kecil tumbuh.
Petani bisa tanam lagi.
Anak-anak bisa sekolah.
Itulah ekonomi yang nyata. Bukan sekadar grafik naik-turun.
Bangsa ini sebenarnya punya pegangan yang jauh lebih bijak.
Kita tidak diajari hidup sendirian. Kita diajari:
Artinya sejak awal kita tahu:
kesejahteraan tidak lahir dari ego, tetapi dari kebersamaan.
Karena itulah Babu Kriuk hadir.
Bukan sekadar jualan. Bukan sekadar merek.
Tapi gerakan kecil untuk:
Setiap rupiah yang berputar di UMKM adalah napas bagi banyak keluarga.
Setiap pilihan belanja yang sadar adalah sikap ekonomi, bukan hal sepele.
Kami tidak mengajak anti kemajuan. Kami mengajak lebih bijak memilih arah.
Tidak semua uang harus mengejar cuan cepat. Sebagian harus mencari manfaat.
Tidak semua ikut-ikutan itu perlu. Tidak semua ego itu harus dituruti.
KARENA EKONOMI BUKAN SOAL MENANG SENDIRI,
TETAPI SOAL HIDUP BERSAMA.
Mari bergerak:
Bukan karena kita lemah. Justru karena kita ingin kuat bersama.
Tugas kita satu: jangan matikan ia dengan ego yang dibungkus cerita lama.